PROGRAM KEGIATAN DAN LAPORAN KERJA

  • Reinstra....view
  • Indikator Kinerja Utama....view
  • Perjanjian Kinerja....view
  • Rencana Anggaran....view
  • Lakip....view
  • Neraca....view
  • LRA....view
  • Aset....view
  • Detail Artikel RSU Haji Surabaya

    DIPTHERIA

    01 November 2011

    Gejala Diptheria pertamakali dilaporkan oleh Hippocrates pada abad 5 SM. Menurut sejarah, difteri merupakan penyebab kematian anak yang terbanyak. Kuman diptheri diidentifikasi pertama kali sekitar tahun 1880 oleh F. Loeffler, dan antioksin untuk penanggulangan gejala diptheri ditemukan dan dibuat pada sekitar tahun 1890. Sejak vaksinasi diptheri dibuat tahun 1920an dan digunakan secara luas, program vaksinasi berhasil menurunkan kejadian dan kematian karena diptheri secara dramatis di seluruh dunia.

    Meskipun implmentasi program vaksinasi terbukti berhasil menurunkan insiden diptheri, tetapi outbreak diptheri masih dapat terjadi ketika cakupan vaksinasi menurun. Salah satu outbreak terjadi pada era 1990 di Rusia dan beberapa negara pecahan Uni Soviet. Menurut laporan World Health Organization (WHO) tercatat lebih dari 157.000 kasus dan 5.000 kematian karena diptheri.

    Pada bulan Oktober 2011 yang lalu masyarakat dikejutkan dengan meningkatnya penyakit diptheri di Jawa Timur. Sebanyak 11 anak meninggal dunia dari 333 kasus diptheri yang muncul selama tahun 2011. Beberapa hari sebelum hari jadi prov. Jawa Timur, pemerintah provinsi menetapkan KLB (Kejadian Luar Biasa) penyakit diptheri. Penetapan ini dilakukan mengingat penyebaran difteri yang terjadi hampir di seluruh Jawa Timur. Kasus diptheri telah menjangkiti 34 kota/kabupaten.

    Diptheri disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diptheriae, suatu bakteri batang gram positive. Terdiri dari tiga type (gravis, mitis, and intermedius) yang dapat menyebabkan gejala diptheri dengan berbagai variasi tingkat keparahan. Corynebacterium diptheriae menyebabkan penyakit dengan invasi jaringan di daerah tenggorokan dan memproduksi toksin yang menyebabkan kerusakan jaringan dan membentuk pseudommbrane. Pseudomembran inilah yang merupakan tanda yang khas pada gejala penyakit diptheri. Toksin diptheri dapat menyebar melalui peredaran darah dan menimbulkan gejala komplikasi yang berat.

    Diptheri adalah suatu penyakit yang sangat menular, penularan penyakit melalui udara pernafasan atau kontak langsung dengan penderita. Diptheri adalah suatu penyakit yang berbahaya dengan fatality rate 5 - 10%. Dan pada usia dibawah 5 tahun serta diatas 40 tahun fatality rate meningkat sebesar 20%.

    Gejala dari diptheria Hidung, pada permulaan mirip penyakit flu pada umumnya, yaitu pilek ringan tanpa atau disertai gejala demam ringan. Sekret hidung berangsur menjadi kehijauan dan kemudian putih kotor dan kadang bercampur darah dan berbau. Pada pemeriksaan tampak membran putih pada daerah septum nasi.

    Sedangkan gejala diptheria Tonsil-Faring, mulai dari nafsu makan menurun, kelelahan, demam ringan, nyeri menelan. Dalam 1-2 hari timbul membran yang melekat, berwarna putih-kelabu dapat menutup tonsil dan dinding faring, meluas ke uvula dan palatum molle atau ke laring dan trachea. usaha mrlrpas membran akan mengakibatkan pendarahan. Dapat terjadi pembesaran kelenjar lympha di daerah leher dan di rahang bawah bila bersamaan dengan edema jaringan lunak leher yang timbul bullneck. Bila kasus berat, bisa terjadi kegagalan pernafasan atau sirkulasi. Dapat terjadi kelumpuhan palatum molle, disertai kesukaran menelan. Penurunan kesadaran, koma, kematian bisa terjadi dalam satu minggu sampai 10 hari. Pada kasus sedang, penyembuhan terjadi secara berangsur-angsur dan bisa disertai penyulit (komplikasi) miokarditis atau neuritis.

    Gejala diptheria kulit, merahan, pembengkakan dan membran pada konjungtiva palpebra. Pada telingan berupa otitis eksterna dengan sekret purulen dan berbau


    Kembali ke daftar artikel